Dinas Kebudayaan Dan pariwisata Provinsi Kalteng Gelar Acara Tahunan Bersama Basir ,Damang Serta Tokoh Dayak Ritual Marasih Ramu Museum Balanga Dan Doa Manantilang Peres Corona

Palangka Raya , Kaltengnews-Bangsa Indonesia terkenal dengan keragamannya, suku, agama dan budaya akan tetapi tetap satu Bhineka Tunggal Ika. Ini yang dilakukan oleh Provinsi Kalimantan Tengah, mengingat,melaksanakan dan melestarikan peninggalan nenek moyang suku dayak yaitu marasih ramu (membersihkan barang pusaka), dengan darah berbagai macam hewan dan sesajian bahan-bahan yang lainnya.Hal ini dilakukan mengingat kepercayaan atau kebudayaan suku Dayak nenek moyang atau leluhur terdahulu menyakini bahwa adanya alam ghoib atau yang tidak nampak dilihat dengan kasad mata, baik itu ada di dunia maupun yang ada dibenda-benda pusaka, dan yang pastinya barang-barang peninggalan nenek moyang suku Dayak.Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Tengah bersama para Basir, Damang dan tokoh adat Dayak lainnya, dari kemaren Jumat (bertepatan dengan hari raya Idhul Adha) malam tadi dan hari ini melaksanakan ritual tahunan yaitu marasih ramu ( membersihkan benda-benda pusaka) dan Doa Manantilang Peres Corona ( menghalau virus corona)di Museum Balanga Km. 2 Cilik Riwut Palangka Raya Minggu, 2 Agustus 2020.Ritual Tersebut dipimpin oleh Basir Rabiadi

Acara dihadiri Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Guntur Talajan, Ketua Sanggar Budaya Kalteng Suraji,Basir Suku Dayak Kalteng Rabiadi, Damang, Mantir, tokoh adat, Bawi Dayak, dan juga ada UMKM agama dan para tamu undangan. Kegiatanpun dengan membersihkan benda-benda pusaka dengan memandikan pusaka dengan darah hewan-hewan persebahan suci yang sudah disembelih (Manyaki) serta doa bersama Manantilang Peres Corona.

Dalam Kesempatan itu Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Guntur menjelaskan, acara yang dilakukan marasih ramu museum balangan dan Doa manantilang peres corona, ini dilakukan karna pada saat ini bangsa kita khususnya Kalimantan tengah sedang menghadapi pandemi virus Cuvid-19, maka dari itu ritual marasih ramu museum Balanga tetap mengedepankan protokol kesehatan, dan doa bersama agar pirus corona khusunya di Kalteng cepat berlalu.

Ditambahkan Guntur, acara marasih ramu Museum Balangan ini biasanya ada acara makan-makan bersama daging hewan persembahan suci tadi dimasak dan dihidangkan disini, mengingat sekarang musim pandemi Covid-19 maka daging hewan tadi dibagikan dan biar dibawa ,dimasak kerumah masing-masing, ungkapnya.

Dengan melaksankan ritual tahunan marasih ramu museum Balanga dan Doa Bersama Manantilang Peres Corona ini, semoga Tuhan YME harap Guntur Talajan, mengabulkan semua permintaan umat manusia agar bangsa Kita dan Kalteng cepat terbebas dari Virus Corona ini dan sanggup menghadapi semua ujian yang diberikan, serta benda-benda peninggalan juga bisa membantu dan menghalau segala macam-macam musibah dan wabah penyakit.

Ditempat yang sama Basir Rabiadi yang juga salah satu Dosen sekolah tinggi agama kaharingan dikota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah, saat dimintai keterangan oleh “Kaltengnews” menjelaskan bahwa kegiatan yang dilakukan acara ritual tahunan ini memang sangat, sangat perlu sekali dilakukan mengingat benda-benda pusaka peninggalan nenek moyang kita.

Ditambahkan Basir Rabiadi, acara ritual parasih ramu dimuseum Balanga ini rutin dilakukan setiap tahun mengingat kepercayaan orang dayak benda-benda pusaka,benda konu itu ada ruh sucinya yang bersemanyam dibenda tersebut baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.

“Dan berharap dengan membersihkan benda – benda tersebut cara orang dayak mengucapkan rasa terima kasih ataupun melaksanakan ritual mamparasih ramu dimuseum balangan ini kita semua terhindar dari marabahaya yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan dan cara dengan memandikan darah hewan suci yang dikorbankan, untuk acara persembahan”, tutup Basir Rabiadi.(..Lusi/P.Raya..)

- Info Redaksi Kalteng News -